Memilih kawat las untuk besi bukan hanya soal merek dan harga, tetapi soal kecocokan material, ketebalan, dan karakter mesin las. Kesalahan di tahap ini sering membuat hasil las, retak, tampak rapi namun lemah secara struktur.
Pada artikel ini, Kita akan menjabarkan tips atau cara memilih kawat las yang tepat untuk besi.
1. Kenali Jenis Besi yang Akan Dilas
Langkah pertama sebelum memilih kawat las adalah mengenali jenis besi yang akan dilas, karena karakter material sangat menentukan hasil pengelasan. Besi karbon rendah atau mild steel seperti besi hollow, plat hitam, dan rangka pagar memiliki sifat mudah dilas dan tidak rapuh, sehingga cocok menggunakan kawat las mild steel seperti E6013.
Sebaliknya, besi karbon sedang hingga tinggi atau besi paduan, misalnya poros, alat berat, dan rangka mesin, memiliki tingkat kekerasan lebih tinggi dan berisiko retak jika menggunakan kawat yang tidak sesuai, sehingga memerlukan kawat las low alloy atau kawat khusus.
2. Sesuaikan Diameter Kawat Las dengan Ketebalan Besi
Diameter kawat las menentukan panas, penetrasi, dan kontrol. Prinsip sederhananya, diameter kawat las harus disesuaikan dengan ketebalan material agar panas dan penetrasi las seimbang. Besi tipis tidak mampu menahan panas tinggi, sehingga membutuhkan kawat kecil (±2.0–2.6 mm) agar tidak mudah meleleh atau berlubang, sementara besi tebal menyerap panas lebih banyak dan memerlukan kawat lebih besar (±3.2–4.0 mm) supaya sambungan las dapat menembus dengan baik dan cukup kuat.
Dengan menyesuaikan ukuran kawat terhadap ketebalan besi, hasil las menjadi lebih rapi, stabil, dan memiliki kekuatan struktural yang optimal.
Contoh:
- Plat 1–2 mm → kawat Ø 2.0 – 2.6 mm
- Plat 3–5 mm → kawat Ø 2.6 – 3.2 mm
- Plat > 6 mm → kawat Ø 3.2 – 4.0 mm
Jika kawat terlalu besar, besi tipis bolong, percikan berlebihan dan sulit dikontrol, jika kawat terlalu kecil, sambungan tampak rapi tapi tidak tembus dan kekuatan las rendah.
3. Cocokkan Kawat Las dengan Jenis Mesin Las
Mesin las inverter memiliki arus yang lebih stabil dan efisien, sehingga sangat cocok digunakan dengan kawat las berdiameter kecil hingga sedang. Karakteristik ini membuatnya ideal untuk kawat tipe E6013 maupun E7018 (low hydrogen) yang membutuhkan suplai arus konsisten agar hasil las rapi, penetrasi baik, dan minim cacat.
Sebaliknya, mesin las trafo cenderung memiliki arus yang kurang stabil dan lebih cocok digunakan dengan kawat standar seperti E6013. Mesin ini kurang ideal untuk kawat las spesialis karena fluktuasi arus dapat mempengaruhi kualitas sambungan. Jika jenis kawat tidak sesuai dengan karakter mesin las, hasil pengelasan akan sulit stabil meskipun teknik pengelasan sudah benar.
4. Perhatikan Jenis Lapisan (Flux) Kawat Las
Jenis lapisan (flux) pada kawat las sangat mempengaruhi kemudahan penyalaan busur, perlindungan kolam las, dan kualitas hasil akhir pengelasan. Misalnya, kawat E6013 lebih mudah digunakan karena busurnya stabil dan slag mudah dibersihkan sehingga ideal untuk pemula, sedangkan E7018 menghasilkan sambungan yang lebih kuat namun membutuhkan kontrol dan teknik yang lebih baik.
Banyak pemula gagal bukan karena teknik yang salah, melainkan karena memilih kawat las dengan karakteristik yang terlalu menuntut keterampilan tinggi.
Baca juga artikel kami tentang penyebab hasil las listrik tidak menempel kuat
5. Tujuan Pengelasan Menentukan Pilihan Kawat
Tujuan pengelasan sangat menentukan pilihan kawat las, sehingga sebelum mengelas perlu menanyakan apakah sambungan tersebut menahan beban atau hanya untuk kebutuhan ringan, serta apakah akan terkena getaran atau panas.
Untuk pekerjaan seperti pagar, rak, atau rangka ringan, kawat las standar umumnya sudah mencukupi, sedangkan untuk struktur yang menahan beban diperlukan kawat las dengan kekuatan tarik lebih tinggi agar sambungan tetap kuat dan aman.