Hasil las yang terlihat rapi belum tentu memiliki kekuatan yang baik. Dalam banyak kasus, sambungan las mengalami cacat yang tidak selalu terlihat dari luar. Jika dibiarkan, cacat las dapat menurunkan kekuatan sambungan, mempercepat korosi, bahkan menyebabkan kegagalan struktur pada pagar, rangka baja, tangki, hingga konstruksi bangunan.
Sebagian besar cacat las sebenarnya dapat dicegah. Penyebabnya umumnya berasal dari pengaturan arus yang kurang tepat, material yang masih kotor, elektroda yang lembap, atau teknik pengelasan yang kurang benar.
Berikut adalah jenis-jenis cacat las yang paling sering ditemukan beserta penyebab dan cara mengatasinya.
Apa Itu Cacat Las?
Cacat las adalah ketidaksempurnaan pada sambungan hasil pengelasan yang menyebabkan kualitas sambungan tidak memenuhi standar atau menurunkan kekuatan mekanisnya.
Tidak semua cacat langsung menyebabkan sambungan gagal, tetapi beberapa jenis seperti retak (crack), lack of fusion, dan incomplete penetration dapat mengurangi kemampuan sambungan menahan beban sehingga harus segera diperbaiki.
Baca juga : Cara Memilih Kawat Las yang Tepat untuk Besi
Macam macam Cacat Las & Cara Mengatasinya
Berikut adalah macam macam cacat las yang paling sering dijumpai di lapangan beserta solusi teknisnya:
1. Porositas (Porosity)
Cacat ini ditandai dengan munculnya rongga atau lubang-lubang kecil mirip busa pada logam lasan akibat adanya gas yang terperangkap saat logam cair membeku.
- Penyebab: Elektroda lembap, material kotor/beroli, atau pasokan gas pelindung tertiup angin.
- Cara Mengatasi: Bersihkan material hingga mengkilap sebelum dilas, gunakan elektroda yang sudah di-oven, dan pasang penghalang angin (welding screen) jika mengelas di luar ruangan.
2. Undercut
Sebuah takik atau cerukan melengkung pada tepi logam induk (base metal) yang berdampingan dengan jalur las yang tidak terisi oleh logam pengisi.
- Penyebab: Arus Amperet terlalu tinggi, travel speed tangan terlalu cepat, atau sudut ayunan elektroda salah.
- Cara Mengatasi: Turunkan parameter arus mesin las, perlambat tempo tarikan tangan, dan tahan sejenak (dwelling) di tiap ujung ayunan.
3. Lack of Fusion (Gagal Menyatu)
Kondisi di mana logam lasan gagal mencair dan menyatu secara sempurna dengan dinding logam induk atau antar-lapisan pengelasan sebelumnya (multi-pass).
- Penyebab: Arus terlalu rendah, kecepatan las terlalu tinggi, atau sudut torch tidak tepat mengarah ke dinding kampuh.
- Cara Mengatasi: Naikkan parameter arus sesuai ketebalan pelat, perbaiki sudut elektroda, dan pastikan permukaan kampuh bebas dari terak sebelum menumpuk lapisan baru.
4. Incomplete Penetration (Penetrasi Kurang)
Cacat internal di mana logam las gagal menembus hingga ke akar sambungan pelat (root of joint).
- Penyebab: Jarak sela akar (root gap) terlalu sempit, bibir kampuh (root face) terlalu tebal, atau arus las terlalu kecil.
- Cara Mengatasi: Perlebar celah root opening sebelum dirakit (tack weld), kurangi ketebalan root face, dan gunakan arus yang memadai untuk menembus dasar logam.
5. Slag Inclusion (Inklusi Terak)
Kondisi di mana zat non-logam berupa terak (slag) pembungkus fluks terperangkap di dalam sela-sela logam lasan. Sering terjadi pada metode SMAW atau FCAW.
- Penyebab: Pembersihan terak antar-lapisan kurang bersih, arus terlalu rendah, atau ayunan terlalu lebar.
- Cara Mengatasi: Wajib bersihkan terak secara total menggunakan palu terak (chipping hammer) dan sikat baja di setiap lapisan las sebelum melanjutkan pengelasan di atasnya.
6. Cracking (Retak Las)
Cacat las paling fatal dan berbahaya. Terbagi menjadi Hot Crack (terjadi saat logam masih membara) dan Cold Crack (muncul setelah logam dingin, biasanya dipicu kontaminasi hidrogen).
- Penyebab: Pendinginan logam terlalu ekstrem, tegangan sisa material tinggi, atau tidak melakukan pemanasan awal (pre-heating).
- Cara Mengatasi: Lakukan proses pre-heating pada material tebal atau baja karbon tinggi, gunakan elektroda low-hydrogen, dan biarkan material mendingin secara perlahan memakai selimut las (welding blanket).
7. Overlap
Kondisi di mana logam las cair meluber hingga menutupi permukaan logam induk tanpa terjadi pencairan atau penyatuan yang sah pada permukaannya.
- Penyebab: Kecepatan tarikan tangan terlalu lambat sehingga cairan logam menumpuk ke depan, atau arus terlalu rendah.
- Cara Mengatasi: Tingkatkan kecepatan gerak tangan secara konsisten dan gunakan parameter arus yang ideal untuk melelehkan permukaan tepi.
Baca juga : Jenis Sambungan Las: Pengertian, Fungsi, dan Cara Memilihnya
8. Spatter Berlebihan (Percikan Las)
Munculnya bintik-bintik butiran logam cair kecil yang memercik dan menempel keras di sekitar area kanan-kiri jalur pengelasan.
- Penyebab: Arus terlalu tinggi, jarak busur las terlalu tinggi/jauh (long arc), atau salah menentukan polaritas mesin (DCEP/DCEN).
- Cara Mengatasi: Turunkan arus, jaga jarak elektroda sedekat mungkin dengan logam (sekitar 1x diameter inti elektroda), atau semprotkan cairan anti-spatter spray pada sekitar area kerja sebelum mengelas.
9. Burn Through (Jebol)
Cacat berupa lubang menganga akibat logam induk mencair seluruhnya dan runtuh ke bawah karena menerima panas yang berlebihan.
- Penyebab: Arus terlalu tinggi pada material pelat yang tipis, atau tarikan tangan terlalu lambat.
- Cara Mengatasi: Kurangi setelan arus Amperet mesin, percepat laju pengelasan, atau pasang plat penahan (backing plate) di bawah sambungan pelat tipis.
10. Distorsi (Distortion / Melenting)
Perubahan geometri atau melengkungnya bentuk material asli akibat distribusi tegangan panas pengelasan yang tidak merata di sepanjang jalur plat.
- Penyebab: Pengelasan dilakukan secara searah dan terus-menerus tanpa jeda pada penampang yang luas, atau kurangnya klem pengunci.
- Cara Mengatasi: Gunakan teknik las titik (tack weld) yang kuat di banyak titik, aplikasikan teknik las melompat atau simetris, dan gunakan klem penjepit (jig & fixture) selama proses pengelasan berlangsung.
Baca juga : Jenis Kacamata Las dan Fungsinya
Cara Mencegah Cacat Las
Sebagian besar cacat las dapat dicegah dengan menerapkan prosedur kerja yang benar.
Sebelum mengelas, pastikan Anda:
- Membersihkan karat, oli, cat, dan kotoran pada material.
- Menggunakan arus sesuai diameter elektroda.
- Menjaga panjang busur tetap stabil.
- Menyimpan elektroda di tempat yang kering.
- Membersihkan slag sebelum membuat lapisan berikutnya.
- Menggunakan teknik pengelasan yang sesuai dengan posisi kerja.
- Mengikuti Welding Procedure Specification (WPS) jika tersedia.
Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi risiko cacat sekaligus meningkatkan kualitas sambungan.
Baca juga : Penyebab Hasil Las Listrik Tidak Menempel Kuat







